|
aku menyusuri jalan setapak menunduk, membisu jaket kulitku berhasil menahan cuaca sore yang congkak maghrib ini mulai menyapa aku masih di jalan setapak menapaki peluh dan kesah seorang penjaja menawariku "kasetnya, mas" ia meninggikan nada tawarannya kulirik ia seketika "ada kaset pengajian?" ia sibuk mencari pedagang pasar makin riuh aku hendak bergegas karena yang kucari mustahil ia dapati "ada, mas. Moammar ataukah Zaenudin MZ ?" "Moammar tapi yang versi karaokenya" ia pun manggut-manggut aku langsung pergi semoga ia tidak mendengar ucapan terakhirku. |
| Leave a Comment: |